Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, GKR Wandansari Koes Murtiyah atau yang akrab disebut Gusti Moeng memberikan sindiran dan peringatan keras pada KGPH Purboyo. AndoSOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM — Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, GKR Wandansari Koes Murtiyah atau yang akrab disebut Gusti Moeng memberikan sindiran dan peringatan keras pada KGPH Purboyo.
Ditemui di Sasana Handrawina usai peringatan 100 hari wafatnya Pakubuwono XIII. Gusti Moeng menekankan bahwa bisa saja Purboyo diusir dari Keraton karena melakukan penguasaan sepihak.
“Yang dia lakukan sekarang ini adalah penguasaan sepihak. Ini yang sangat dia salah dan ini langkah yang sangat melanggar hukum adat. Berarti sanksinya seluruh masyarakat adat keraton ini (sentana dan abdi dalem) bisa meminta beliau keluar dari keraton. Kalau tidak bisa dikandani harusnya seperti itu,” ungkap Gusti Moeng, Senin, (09/02/2026).
Gusti Moeng lanjut menegaskan bahwa Keraton Kasunanan Surakarta adalah milik dinasti.
“Sekali lagi, keraton bukan miliknya bapaknya. Keraton adalah milik dinasti,” tegasnya.
Sebagai Ketua LDA Keraton Surakarta yang mendapat kepercayaan dari seluruh Trah Keraton Surakarta sejak PB I hingga PB XII. Gusti Moeng merasa berkewajiban untuk mendudukan aturan dasar itu kembali pada tempatnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gusti Moeng kembali menegaskan bahwa KGPH Hangabehi (Suryo Suharto) merupakan sosok penerus tahta yang paling pas karena posisinya sebagai anak laki-laki tertua dari PB XIII mengingat PB XIII juga tidak memiliki seorang permaisuri yang sah (diakui seluruh kerabat) semasa memimpin keraton.
“Jumenengan itu memang berat untuk masa sekarang mengingat syarat-syarat harus dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Yang utama adalah rembug dari kesepakatan seluruhnya karena sinuhun nantinya adalah meneruskan Dinasti Mataram yang sudah ada paugeran yang harus dipenuhi,” terangnya.
Selanjutnya, Gusti Moeng menegaskan bahwa Raja Kasunanan di masa mendatang juga haruslah sosok yang bisa mengayomi seluruh rakyat keraton baik itu dari kalangan kerabat, sentana dalem, maupun abdi dalem keraton.
“Kalau malah bikin masalah, bikin aturan sendiri, berarti sudah merusak tatanan. Lha itu bisa diusir. Yang mengusir siapa? Ya komunitas kita yakni sentana dan abdi dalemnya. Seorang biasa saja yang tidak mengikuti aturan lingkungannya saja bisa diusir, apalagi di keraton,” tandasnya. Ando
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

8 hours ago
2

















































