JAYAPURA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura mengeluarkan peringatan serius terkait datangnya musim kemarau yang disertai indikasi fenomena El-Nino kuat tahun ini. Kombinasi fenomena alam ini diprediksi memicu kekeringan serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Papua.
Ketua Tim Meteorologi Publik BMKG Papua, Finnyalia Napitupulu, menjelaskan bahwa seluruh Zona Musim (ZOM) di wilayah Papua yang memiliki tipe dua musim kini telah sepenuhnya memasuki musim kemarau sejak periode Mei hingga Juli. Adapun puncak musim kemarau diproyeksikan akan berlangsung mulai Juni hingga September 2026.
Kondisi kemarau tahun ini (2026) kata Finnyalia diperkirakan akan lebih kering dari biasanya akibat aktifnya fenomena El-Nino. Berdasarkan hasil monitoring atmosfer dan laut terbaru, nilai Southern Oscillation Index (SOI) tercatat berada di angka -26.2, didukung oleh indeks Nino 3.4 yang mencapai +1.25.
“Indikator ini menunjukkan adanya indikasi El-Nino yang mulai berkembang aktif pada periode Mei-Juni-Juli 2026. Fenomena ini berpotensi terus berlangsung dalam beberapa bulan ke depan dan diprediksi mencapai level kuat,” ungkap Finnyalia kepada Cenderawasih Pos dalam keterangan tertulisnya, Selasa (14/7/2026).
Seiring dengan mengeringnya wilayah Papua, pantauan satelit BMKG pada, 12 Juli 2026 mendeteksi adanya peningkatan titik panas (hotspot). Secara keseluruhan, terpantau sebanyak 82 titik panas yang tersebar di wilayah Papua. Kabupaten Merauke menjadi wilayah yang paling rawan dan mendominasi temuan titik panas tersebut.
Guna meminimalisir dampak buruk yang mungkin terjadi, BMKG mengimbau seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah untuk segera melakukan langkah-langkah mitigasi berikut: Pertama, Stop Membakar Lahan. Masyarakat dilarang keras melakukan pembakaran lahan untuk tujuan membuka kebun, membersihkan lahan, atau aktivitas lain yang dapat memicu kobaran api.
Kedua, Siagakan Sumber Air. Masyarakat diingatkan untuk segera isi waduk, embung, penampungan air, atau bendungan sebagai cadangan air darurat dan antisipasi pemadaman dini.
Ketiga, Tingkatkan Patroli. Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan meningkatkan patroli lapangan serta pengawasan ketat, terutama di wilayah rawan seperti Merauke.
Keempat, Tanggap Lapor. Segera laporkan kepada pihak berwenang jika melihat kepulan asap, titik api, atau indikasi awal kebakaran. Terakhir, Pantau Informasi Resmi. Masyarakat diminta untuk selalu memperbarui informasi cuaca, perkembangan El-Nino, dan sebaran titik panas secara berkala melalui saluran resmi BMKG. (jim/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
JAYAPURA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura mengeluarkan peringatan serius terkait datangnya musim kemarau yang disertai indikasi fenomena El-Nino kuat tahun ini. Kombinasi fenomena alam ini diprediksi memicu kekeringan serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Papua.
Ketua Tim Meteorologi Publik BMKG Papua, Finnyalia Napitupulu, menjelaskan bahwa seluruh Zona Musim (ZOM) di wilayah Papua yang memiliki tipe dua musim kini telah sepenuhnya memasuki musim kemarau sejak periode Mei hingga Juli. Adapun puncak musim kemarau diproyeksikan akan berlangsung mulai Juni hingga September 2026.
Kondisi kemarau tahun ini (2026) kata Finnyalia diperkirakan akan lebih kering dari biasanya akibat aktifnya fenomena El-Nino. Berdasarkan hasil monitoring atmosfer dan laut terbaru, nilai Southern Oscillation Index (SOI) tercatat berada di angka -26.2, didukung oleh indeks Nino 3.4 yang mencapai +1.25.
“Indikator ini menunjukkan adanya indikasi El-Nino yang mulai berkembang aktif pada periode Mei-Juni-Juli 2026. Fenomena ini berpotensi terus berlangsung dalam beberapa bulan ke depan dan diprediksi mencapai level kuat,” ungkap Finnyalia kepada Cenderawasih Pos dalam keterangan tertulisnya, Selasa (14/7/2026).
Seiring dengan mengeringnya wilayah Papua, pantauan satelit BMKG pada, 12 Juli 2026 mendeteksi adanya peningkatan titik panas (hotspot). Secara keseluruhan, terpantau sebanyak 82 titik panas yang tersebar di wilayah Papua. Kabupaten Merauke menjadi wilayah yang paling rawan dan mendominasi temuan titik panas tersebut.
Guna meminimalisir dampak buruk yang mungkin terjadi, BMKG mengimbau seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah untuk segera melakukan langkah-langkah mitigasi berikut: Pertama, Stop Membakar Lahan. Masyarakat dilarang keras melakukan pembakaran lahan untuk tujuan membuka kebun, membersihkan lahan, atau aktivitas lain yang dapat memicu kobaran api.
Kedua, Siagakan Sumber Air. Masyarakat diingatkan untuk segera isi waduk, embung, penampungan air, atau bendungan sebagai cadangan air darurat dan antisipasi pemadaman dini.
Ketiga, Tingkatkan Patroli. Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan meningkatkan patroli lapangan serta pengawasan ketat, terutama di wilayah rawan seperti Merauke.
Keempat, Tanggap Lapor. Segera laporkan kepada pihak berwenang jika melihat kepulan asap, titik api, atau indikasi awal kebakaran. Terakhir, Pantau Informasi Resmi. Masyarakat diminta untuk selalu memperbarui informasi cuaca, perkembangan El-Nino, dan sebaran titik panas secara berkala melalui saluran resmi BMKG. (jim/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q


















































