Melaju di Atas Aspal dari Malam Tembus Pagi, Terapkan Monitoring  24 Jam

17 hours ago 10

Komunitas LDR (Laskar Di Rantau), Pejuang Rupiah di Jalanan Jayapura

Di tengah tuntutan pemenuhan  hidup, Komunitas Laskar Di Rantau (LDR) telah membuktikan bahwa keterbatasan dan tantangan ekonomi di tanah rantau dapat ditaklukkan bukan dengan berjalan sendiri-sendiri, melainkan dengan merapatkan barisan, merendahkan ego, serta melangitkan doa di setiap putaran roda.

Laporan : Jimianus Karlodi_ Jayapura

Di balik helaan napas dan deru mesin sepeda motor yang membelah dinginnya angin malam Kota Jayapura, ada perjuangan panjang para perantau dalam mengadu nasib. Jalanan ibukota Provinsi Papua ini bukan sekadar rute untuk mengantar penumpang atau kiriman barang dari satu titik ke titik lain.

  Kondisi ini seolah  menjadi medan laga bagi driver ojek online. Mereka harus menghadapi kondisi yang penuh dinamika: ketatnya persaingan tarif, tingginya potongan aplikasi, bayang-bayang pemalakan di gang sempit, hingga risiko keselamatan di jam-jam rawan malam.

   Di balik jaket kuning yang mulai lusuh diterpa debu jalanan dan terik matahari di Kota Jayapura, tersimpan jejak perjuangan hidup yang panjang, peluh kerinduan pada keluarga di kampung halaman, hingga ikatan persaudaraan yang melampaui sekat daerah asal. Sebuah wadah kebersamaan lahir dengan nama Komunitas LDR (Laskar Di Rantau) pada 15 April 2026.

   Berawal dari diskusi santai dan kesadaran akan pentingnya saling menjaga di tanah rantau, komunitas pengemudi Ojek Online (Ojol) Maxim ini kini melangkah kokoh dengan puluhan anggota yang saling memantau dan mendukung selama 24 jam.

  Di tengah menjamurnya berbagai grup dan organisasi ojek online di Kota Jayapura baik yang berskala kecil maupun yang mencakup ribuan anggota LDR memilih jalurnya sendiri. Komunitas yang beranggotakan 20 driver ini (termasuk pengemudi perempuan) didirikan bukan untuk bersaing kuantitas, melainkan membangun wadah yang intens dalam komunikasi, padu dalam tindakan, dan kokoh dalam solidaritas.

  Menjalani profesi ojol selama lebih dari dua tahun telah memberikan Rohidin sudut pandang yang mendalam mengenai realitas jalanan. Baginya, pendapatan di dunia ojol sangat bergantung pada kerajinan dan fisik masing-masing individu.

Komunitas LDR (Laskar Di Rantau), Pejuang Rupiah di Jalanan Jayapura

Di tengah tuntutan pemenuhan  hidup, Komunitas Laskar Di Rantau (LDR) telah membuktikan bahwa keterbatasan dan tantangan ekonomi di tanah rantau dapat ditaklukkan bukan dengan berjalan sendiri-sendiri, melainkan dengan merapatkan barisan, merendahkan ego, serta melangitkan doa di setiap putaran roda.

Laporan : Jimianus Karlodi_ Jayapura

Di balik helaan napas dan deru mesin sepeda motor yang membelah dinginnya angin malam Kota Jayapura, ada perjuangan panjang para perantau dalam mengadu nasib. Jalanan ibukota Provinsi Papua ini bukan sekadar rute untuk mengantar penumpang atau kiriman barang dari satu titik ke titik lain.

  Kondisi ini seolah  menjadi medan laga bagi driver ojek online. Mereka harus menghadapi kondisi yang penuh dinamika: ketatnya persaingan tarif, tingginya potongan aplikasi, bayang-bayang pemalakan di gang sempit, hingga risiko keselamatan di jam-jam rawan malam.

   Di balik jaket kuning yang mulai lusuh diterpa debu jalanan dan terik matahari di Kota Jayapura, tersimpan jejak perjuangan hidup yang panjang, peluh kerinduan pada keluarga di kampung halaman, hingga ikatan persaudaraan yang melampaui sekat daerah asal. Sebuah wadah kebersamaan lahir dengan nama Komunitas LDR (Laskar Di Rantau) pada 15 April 2026.

   Berawal dari diskusi santai dan kesadaran akan pentingnya saling menjaga di tanah rantau, komunitas pengemudi Ojek Online (Ojol) Maxim ini kini melangkah kokoh dengan puluhan anggota yang saling memantau dan mendukung selama 24 jam.

  Di tengah menjamurnya berbagai grup dan organisasi ojek online di Kota Jayapura baik yang berskala kecil maupun yang mencakup ribuan anggota LDR memilih jalurnya sendiri. Komunitas yang beranggotakan 20 driver ini (termasuk pengemudi perempuan) didirikan bukan untuk bersaing kuantitas, melainkan membangun wadah yang intens dalam komunikasi, padu dalam tindakan, dan kokoh dalam solidaritas.

  Menjalani profesi ojol selama lebih dari dua tahun telah memberikan Rohidin sudut pandang yang mendalam mengenai realitas jalanan. Baginya, pendapatan di dunia ojol sangat bergantung pada kerajinan dan fisik masing-masing individu.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|