Penjualan Mobil 2025 Tembus 4,9 Juta Unit, Kepala BGN Klaim Karena  Program MBG

1 hour ago 1
Ketua Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana (3 dari kiri) | bgn.go.id

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya digadang-gadang sebagai solusi peningkatan gizi masyarakat. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana bahkan mengklaim program tersebut ikut menggerakkan sektor otomotif hingga membuat kendaraan niaga jenis tertentu sulit ditemukan di pasaran.

Pernyataan itu disampaikan Dadan dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026). Ia menyebut data penjualan sepeda motor tahun 2025 yang mencapai hampir lima juta unit sebagai salah satu indikator dampak ekonomi program MBG.

“Ternyata dari data AHM, kita melihat angka penjualan motor mencapai 4,9 juta tahun 2025 dan ini terdongkrak oleh program MBG,” kata Dadan.

Menurutnya, lonjakan pembelian sepeda motor terjadi di kalangan pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia mengaku menerima laporan bahwa di sejumlah SPPG, mayoritas pegawainya membeli kendaraan baru setelah program berjalan.

“Jadi kalau ada 50 orang, kali 60 persen, artinya 30 orang beli motor, sehingga [penjualan] motornya naik,” ujarnya.

Selain roda dua, kebutuhan kendaraan operasional roda empat juga disebut meningkat. Dalam presentasinya, Dadan menampilkan pemberitaan yang menyebut penjualan Daihatsu Gran Max di Cirebon naik hingga 40 persen yang dikaitkan dengan kebutuhan distribusi MBG.

Ia menjelaskan, setiap SPPG memerlukan sedikitnya dua unit mobil untuk mendukung distribusi logistik bahan pangan. Dengan jumlah SPPG yang saat ini telah mencapai 23 ribu unit, maka kebutuhan kendaraan operasional diperkirakan menyentuh angka 46 ribu unit.

“Kalau sekarang sudah ada 23 ribu SPPG, itu artinya dibutuhkan 46 ribu mobil jenis itu dan sekarang termasuk mobil yang sulit dicari,” ucap Dadan.

Tak hanya sektor otomotif, Dadan juga memaparkan dampak lanjutan MBG terhadap pelaku usaha pangan. Ia menyinggung adanya petani hidroponik yang mengalami lonjakan omzet hingga dua kali lipat, serta pelaku usaha tahu yang sebelumnya nyaris gulung tikar kini kembali beroperasi.

“Kemudian ada pengusaha tahu yang sudah hampir bangkut, sekarang bangkit kembali,” kata Dadan.

Permintaan susu dalam skala besar dari program tersebut juga disebut memicu peningkatan kapasitas produksi di sentra peternakan. Dadan mencontohkan SPPG di Bandung dan Boyolali yang harus menyiapkan fasilitas penyimpanan dingin untuk memenuhi kebutuhan harian.

“Ada juga sekarang pabrik-pabrik susu atau peternak susu di Boyolani, di Bandung, sudah membuat susu pasteurisasi dan juga mereka sudah membuat satu cold storage yang bisa memasok kebutuhan susu, di mana satu SPPG setiap hari butuh 450 liter susu,” ujarnya.

Meski demikian, klaim tersebut masih menyisakan ruang diskusi lebih lanjut mengenai seberapa besar kontribusi langsung program MBG terhadap lonjakan penjualan kendaraan dan pertumbuhan sektor usaha terkait. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|