Kasus Ratusan Siswa Mlati Keracunan Usai Santap MBG, Tiga Bakteri Ditemukan di Sampel Makanan

3 days ago 8
Ilustrasi keracunan makanan | kreasi AI

SLEMAN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sleman kembali disorot. Ratusan pelajar dari empat SMP di Kapanewon Mlati dilaporkan mengalami keracunan massal setelah menyantap menu MBG pada Rabu (13/8/2025).

Gejala yang dialami siswa bervariasi, mulai dari mual, muntah, pusing hingga diare. Sebagian besar sempat dirawat di Puskesmas Mlati I dan II, sedangkan belasan lainnya harus menjalani perawatan intensif di RSUD Sleman dan RSA UGM.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Cahya Purnama, menjelaskan hasil uji laboratorium atas sampel makanan, muntahan, dan feses siswa menunjukkan adanya cemaran tiga jenis bakteri berbahaya.

“Dari pemeriksaan laboratorium ditemukan indikasi bakteri Escherichia coli, Clostridium sp., dan Staphylococcus. Namun hasil ini masih harus dipadukan dengan penyelidikan epidemiologi di lapangan,” kata Cahya, Selasa (26/8/2025).

Menurutnya, ketiga bakteri itu lazim masuk ke tubuh manusia melalui makanan yang kurang higienis, bisa dari air, bahan pangan, maupun proses pengolahan. Karena itu, kepastian sumber kontaminasi masih menunggu kajian epidemiologi menyeluruh.

Menu yang sempat diperiksa meliputi rawon, nasi, dan lalapan. Namun, sebagian besar sampel berasal dari muntahan serta feses korban yang ditangani di rumah sakit.

Evaluasi Program MBG

Kasus tersebut memantik evaluasi serius terhadap pelaksanaan MBG di Sleman. Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menegaskan pentingnya kolaborasi antara Pemkab dengan Badan Gizi Nasional (BGN) selaku penanggung jawab penyedia makanan.

“Saya mohon maaf, kejadian ini harus jadi pelajaran. MBG harus dievaluasi, pengawasan diperketat, dan dapur penyedia makanan harus benar-benar higienis. Kalau terbukti ada pelanggaran atau bahkan subkontrak, kontraknya harus diputus. Kita tidak bisa main-main karena menyangkut kesehatan anak-anak,” tegas Harda.

Pemkab, lanjutnya, memang tidak memiliki kewenangan penuh mengatur dapur penyedia makanan, namun ia mendorong adanya pengawasan lebih ketat sebelum makanan didistribusikan.

Rekomendasi Dinas Kesehatan

Dinkes Sleman menyusun sejumlah rekomendasi bagi pihak penyedia MBG. Beberapa di antaranya adalah menjaga kualitas sumber air, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di dapur, hingga pelatihan khusus bagi petugas dapur sekolah penyelenggara program.

Cahya menekankan bahwa makanan yang dimasak dalam jumlah besar harus memperhatikan jeda waktu penyajian. Idealnya, makanan tidak disajikan lebih dari empat jam setelah dimasak. Jika harus memasak bertahap, distribusi makanan juga sebaiknya dipisahkan agar sumber kontaminasi mudah dilacak bila terjadi kasus serupa.

“Kami sudah mulai melatih penjamah makanan di dapur-dapur MBG. Tujuannya agar mereka paham standar kebersihan dan tidak lagi asal dalam mengolah bahan,” imbuhnya.

379 Siswa Jadi Korban

Data resmi Dinas Kesehatan Sleman menyebutkan, total ada 379 siswa yang mengalami gejala keracunan. Mereka berasal dari SMP Muhammadiyah 1 Mlati, SMP Muhammadiyah 3 Mlati, SMP Pamungkas, dan SMP Negeri 3 Mlati.

Dari jumlah itu, 18 siswa harus menjalani rawat inap, sedangkan ratusan lainnya cukup mendapatkan perawatan jalan.

Hingga kini, hasil penyelidikan lengkap terkait sumber bakteri masih ditunggu. Namun, kasus ini telah menambah catatan penting bagi pemerintah daerah agar distribusi MBG ke depan lebih diawasi ketat, mengingat program tersebut menyasar langsung kesehatan generasi muda. [*] Berbagai sumber

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|