Danantara-KAI Mulai Bahas Skema Utang Whoosh, DPR Ingatkan Ancaman Kerugian Miliaran Dolar

6 days ago 12
Kereta cepat Whoosh | Wikipedia

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memastikan sudah membuka pembicaraan dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) terkait pembenahan utang jumbo proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh.

CEO Danantara, Dony Oskaria, menyebut pertemuan itu berlangsung pekan ini. Menurutnya, agenda utama adalah menyiapkan pola restrukturisasi dan pembayaran pinjaman yang membebani konsorsium BUMN. “Masih tahap penjajakan. Mekanisme detailnya belum bisa saya sampaikan, tapi ini sudah masuk dalam RKAP tahun berjalan,” jelas Dony saat ditemui di Jakarta, Jumat (22/8/2025).

Rasio Utang KAI Kian Berat

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, sebelumnya mengakui kondisi keuangan perseroan tertekan akibat beban Whoosh. Rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER) meningkat dari 1,2 kali menjadi 1,3 kali pada semester I-2025. Total kewajiban perusahaan dari proyek penugasan tercatat Rp46,5 triliun, naik dari Rp43,2 triliun setahun sebelumnya.

Meski ekuitas KAI ikut tumbuh menjadi Rp36,6 triliun, laju utang yang kian menanjak membuat perusahaan harus memutar otak. Bobby menyebut, pembahasan bersama Danantara sangat penting agar risiko tidak semakin menumpuk. “Kalau tidak diantisipasi, ini bisa jadi bom waktu,” tegasnya saat rapat dengan Komisi VI DPR, Rabu (20/8/2025).

Kerugian Konsorsium PSBI

Beban itu terutama bersumber dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), anak usaha KAI yang memegang saham mayoritas di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Dalam laporan keuangan, PSBI menanggung kerugian Rp4,19 triliun pada 2024 dan masih defisit Rp1,62 triliun sepanjang semester I-2025.

Porsi kepemilikan PSBI mencapai 60 persen, dengan KAI menguasai 58,53 persen saham, WIKA 33,36 persen, Jasa Marga 7,08 persen, dan PTPN VIII 1,03 persen. Sementara konsorsium China Railway menggenggam 40 persen sisanya.

Dengan nilai investasi proyek mencapai 7,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp116 triliun, suntikan modal dari BUMN Indonesia praktis ikut terseret kerugian.

DPR Desak Langkah Cepat

Kondisi ini menuai sorotan tajam dari DPR. Ketua Komisi VI, Anggia Ermarini, menilai bisnis inti KAI sebetulnya sehat, namun terkikis oleh proyek kereta cepat. “Tanpa Whoosh, kinerja KAI seharusnya bisa mencetak laba. Tapi dengan beban ini, defisit tak terhindarkan,” ujarnya.

Anggota Komisi VI lainnya, Darmadi Durianto, mengingatkan risiko kerugian KAI bisa menembus Rp6 triliun pada 2026 bila tak segera ada solusi. Ia mencontohkan, hanya dalam setengah tahun beban KCIC mencapai Rp950 miliar yang jika dikalikan dalam setahun menembus Rp1,9 triliun. “Ini tekanan luar biasa,” katanya.

Sementara itu, Rieke Diah Pitaloka menambahkan bahwa sejak awal 2025 KAI sudah mengucurkan modal besar ke PSBI. “Dengan kerugian yang masih berlanjut, situasi ini makin berat. Padahal sebagian besar pendanaan berasal dari pinjaman luar negeri,” ungkapnya.

Kini, semua mata tertuju pada hasil pembahasan antara Danantara dan KAI. Publik menanti apakah restrukturisasi bisa benar-benar meringankan beban keuangan BUMN transportasi itu atau justru menambah daftar panjang masalah Whoosh. [*] Berbagai sumber

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|