
KLATEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Perayaan Hari Jadi ke-80 Provinsi Jawa Tengah tahun ini menghadirkan logo istimewa. Angka “80” tidak sekadar angka, tetapi divisualkan menyerupai burung Kepodang Emas, satwa khas Jawa Tengah yang sarat filosofi.
Di balik logo penuh makna itu, ada sosok sederhana: Yusup Kristiyanto, warga Dusun Tunggul, Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Klaten. Dialah pemenang sayembara desain yang diadakan Pemprov Jateng.
Menurut Yusup, desain angka 80 yang diciptakannya menggambarkan seekor burung Kepodang Emas sedang meloloh atau menyuapi anaknya. Filosofi itu ia hubungkan dengan slogan “Ngopeni Nglakoni Jawa Tengah” yang diusung Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.
“Makna kata meloloh mengacu pada proses memberi makan pada anaknya. Artinya itu Ngopeni supaya bisa bertumbuh. Burung Kepodang Emas juga dikenal dengan keindahan bulunya dan perilaku baik suka membersihkan diri (Nglakoni) dengan merasakan kehidupan nyata, menghilangkan berbagai keburukan supaya bisa mapan,” ujar Yusup, seperti dikutip dari laman resmi Pemprov Jateng.
Filosofi Kepodang Emas
Bagi Yusup, Kepodang Emas bukan sekadar burung indah, tetapi simbol kearifan lokal: suaranya merdu, bulunya kuning keemasan, dan penuh perhatian pada anaknya. Ia melihatnya sebagai lambang kekompakan, keselarasan, serta kemakmuran.
“Sehingga hal ini dirasa selaras untuk merepresentasikan semangat pemerintah dalam Ngopeni serta Nglakoni Jawa Tengah, dengan kesederhanaan, totalitas, serta ketulusan hati, dalam mewujudkan seluruh masyarakat Jawa Tengah yang mapan serta bertumbuh,” ungkapnya.
Logo tersebut menyimpan pesan sederhana namun mendalam: Jateng di usia 80 bukan sekadar mapan, tetapi juga terus bertumbuh. Seperti anak Kepodang yang kelak akan terbang mandiri.
Belajar Otodidak
Di balik karyanya, ada kisah haru. Yusup mengaku berhari-hari corat-coret kertas HVS sebelum menemukan ide burung Kepodang Emas. Setelah sketsa selesai, ia memprosesnya lewat laptop bekas seharga Rp800 ribu yang ia beli dari tukang servis.
“Laptop itu saya beli dari tukang servis, Rp 800 ribu. Kondisinya ya begitu adanya,” tuturnya.
Kemampuan desain yang dimiliki Yusup juga bukan hasil pendidikan formal. Ia belajar secara otodidak, berawal ketika bekerja sebagai office boy di sebuah percetakan di Yogyakarta. Setiap hari ia bersentuhan dengan buku, lalu diam-diam mempelajari desain sampul. Dari situlah kecintaannya pada desain tumbuh.
“Saya dulu hanya OB di sebuah usaha percetakan. Dari situ saya suka membaca dan belajar desain,” kenangnya.
Ia bahkan sempat membuat buku cerita anak bergambar yang sempat dijual di toko buku.
Kini, buah kreativitasnya terpampang di berbagai platform digital dan baliho perayaan HUT Jawa Tengah.
“Saya senang dan saya asli orang Jawa Tengah yang membuat logo Hari Jadi Ke-80 Jawa Tengah,” ucapnya bangga.
Antusiasme Masyarakat
Kepala Diskominfo Provinsi Jateng, Agung Hariyadi, menuturkan penentuan logo HUT ke-80 dilakukan lewat sayembara untuk melibatkan masyarakat. Tahun ini, ada 632 peserta yang mengirimkan karya.
“Semua karya peserta sangat bagus. Sehingga, dilakukan seleksi secara objektif dan profesional,” jelasnya.
Menurut Agung, logo karya Yusup terpilih karena tidak hanya menampilkan angka, tetapi juga mengandung filosofi mendalam yang sejalan dengan visi-misi Jawa Tengah: Ngopeni Nglakoni, Mapan dan Bertumbuh.
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.