PATI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kasus Bupati Pati, Sudewo kembali memanas dengan munculnya aksi unjuk rasa di Lapangan Desa Gadudero, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati pada Minggu (24/8/2025).
Tapi tunggu dulu! Demo ini bukan menuntut pelengseran Bupati Pati, Sudewo. Tapi malah sebaliknya, memberikan dukungan kepada politisi Partai Gerindra tersebut. Boleh dikatakan, ini adalah aksi demo tandingan dari aksi unjuk rasa sebelumnya.
Ratusan massa yang menamakan diri Masyarakat Sukolilo Cinta Damai berbondong-bondong datang membawa poster, spanduk, dan kain putih panjang yang penuh tanda tangan. Isi pesan mereka jelas: meminta Sudewo tetap menjabat hingga akhir masa periode.
Bahkan, untuk menandingi gerakan oposisi yang mendirikan Posko Masyarakat Pati Bersatu di depan Kantor Bupati, massa pro-Sudewo mendirikan tenda serupa di Lapangan Gadudero dengan nama Posko Cinta Damai Pati Kidul.
Di spanduk berwarna kuning yang dibentangkan, tampak tulisan tegas: “Manusia Tidak Ada yang Sempurna. Kesalahan Ucap Maafkanlah.” Tulisan ini merujuk pada blunder ucapan Sudewo beberapa waktu lalu yang sempat viral ketika menantang warga menolak kenaikan tarif Pajak Bumi dan Bangunan (PBB-P2). Meski sudah meminta maaf dan mencabut kebijakan penyesuaian NJOP yang memicu protes, gema kasus itu rupanya belum benar-benar surut.
Koordinator aksi, Suprihono, menyebut masyarakat Sukolilo merasakan langsung hasil kerja Sudewo. Karena itu mereka memilih mendukung, bukan menjatuhkan.
“Sejak dulu beliau sudah menyalurkan program bedah rumah, bahkan sebelum jadi Bupati. Sekarang setelah menjabat, pembangunan jalan dan normalisasi sungai makin nyata. Itu sebabnya kami sepakat menyebut beliau Bapak Pembangunan Pati,” ucapnya lantang.
Ia merinci beberapa proyek yang sudah berjalan, mulai dari pengecoran jalan Sukolilo–Prawoto hingga perbaikan ruas Sumbersoko–Tompegunung. Selain itu, pengerukan sungai juga digiatkan untuk mengurangi banjir di Gadudero, Wotan, Baleadi hingga Wegil.
Massa yang hadir mengklaim mewakili 16 desa di Kecamatan Sukolilo. Mereka mengaku datang secara sukarela tanpa mobilisasi. “Kami ingin menunjukkan bahwa Sukolilo itu damai, tidak ada keributan, dan solid mendukung Pak Sudewo,” tambah Suprihono.
Dukungan juga datang dari warga Tompegunung. Listianawati, salah satu peserta aksi, menegaskan keberhasilan pembangunan infrastruktur menjadi alasan dirinya turun ke lapangan. “Pokoknya Pak Sudewo orangnya mantap. Kami tidak mau beliau diberhentikan,” katanya.
Namun, di sisi lain, kelompok oposisi yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Pati Bersatu tetap konsisten menuntut pemberhentian Sudewo. Mereka mendesak KPK segera menetapkan sang Bupati sebagai tersangka kasus dugaan suap proyek di Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA).
Bahkan, kelompok tersebut berencana menggelar aksi besar-besaran di Jakarta pada 2–3 September 2025. Sebagai pemanasan, mereka akan melakukan aksi kirim surat ke KPK secara serentak dari Pati pada Senin (25/8/2025).
“Ribuan orang akan berjalan kaki menuju Kantor Pos untuk mengirim surat tuntutan ke KPK,” ujar Supriyono alias Botok, koordinator aksi oposisi.
Dengan demikian, peta politik di Kabupaten Pati makin jelas terbelah. Di satu sisi, massa pendukung menyebut Sudewo sebagai Bapak Pembangunan. Di sisi lain, kelompok penentang terus mendesak agar KPK menjeratnya dalam kasus dugaan korupsi proyek rel kereta api. [*] Berbagai sumber
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.