SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM — Hidup serba aesthetic tak menjamin manusia bahagia seutuhnya. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Septian Wahyu Rahmanto, S.Psi., M.Psi., mengatakan perilaku memejeng persona serba aesthetic, khususnya di media sosial, memiliki risiko tersendiri pada manusia.(bisa juga dibaca di news.ums.ac.id)
Ihwal tersebut ia beberkan dalam Kajian Wellbeing, bertemakan “Romantisasi Hidup vs. Realita, Bagaimana Trend Aesthetic Life Berdampak dalam Kehidupan”, di Masjid Sudalmiyah Rais, UMS, Jumat (7/3/2025).
Septian mengatakan tren aesthetic menitik beratkan pada keindahan untuk menarik inderawi manusia. Salah satunya melalui konten foto maupun video yang bertebaran di media sosial.
“Aesthetic ini berorientasi pada keindahan yang dirasakan manusia. Termasuk saat ngomongin soal social media,” ujar dia di hadapan jamaah kajian.
Aesthetic adalah cabang filsafat yang membahas keindahan. Filosofi keindahan tersebut bisa terbentuk dan dapat dirasakan manusia.
Ada tiga alasan mengapa seseorang ingin terlihat aesthetic, yakni ingin suasana tenang, kenyamanan, dan ingin dilihat orang lain sebagai pribadi yang berbeda.
Namun, mencintai hal-hal yang serba aesthetic bukan tanpa risiko. Septian membeberkan aesthetic berlebihan akan memicu romantisasi berlebihan dalam hidup.
“Perilaku mencintai hal-hal yang serba aesthetic ini seperti pedang bermata dua,” beber Septian.
Perilaku meromantisasi yang berlebihan akan memengaruhi pola pikir manusia yang lebih mengedepankan kenyamanan ketimbang esensi.
Contoh paling sederhana, kata dia, adalah belajar. Esensi dari belajar adalah memahami hal-hal baru. Namun, perilaku romantisasi membuat manusia lupa esensi belajar, sehingga lebih fokus pada perintilan-perintilan yang kurang penting.
Misalnya, mahasiswa mempercantik kamar kosnya agar nyaman untuk belajar. Saat kembali ke rumah, ia tidak mau belajar di rumah.
“Karena belajar di rumah sudah tidak nyaman lagi. Berbeda dengan belajar di kos yang sudah didesain tadi,” paparnya.
Menurutnya, perilaku romantisasi lazim disebabkan karena stimulus konten di media sosial. Melihat konten orang lain yang dianggap aesthetic akan mendorong manusia untuk meniru konten yang sama.
Alhasil standar hidup manusia bisa berubah. Manusia tidak lagi terkoneksi dengan dirinya. Parahnya, manusia dapat kehilangan makna atas segala aktivitas yang mereka lakukan.
Tak jarang perilaku romantisasi malah membuat manusia lebih konsumtif. Sebab, dia melanjutkan, untuk mencapai nilai aesthetic dalam taraf tertentu, manusia harus merogoh kocek untuk menunjang perilakunya.
“Awalnya mungkin hanya ingin terlihat indah. Namun, lama-lama ini menjadi realita baru dalam menghadapi kehidupan sosial masa kini,” imbuh dia.
Septian mengamini jika motivasi manusia melakukan romantisasi adalah bentuk pencarian ketenangan. Namun, dengan mengikuti tren romantisasi tersebut, manusia justru berisiko tidak tenang.
Untuk itu, dia mengajak jamaah kajian untuk merefleksikan ke dalam diri dan mencari ketenangan sejati. Caranya dengan mengendalikan dan meregulasi diri.
Menanamkan pola pikir untuk tidak mudah mengikuti arus tren di media sosial adalah salah satu cara untuk tetap tenang. Bahkan, sesederhana lingkungan yang jauh dari kebisingan pun dapat menenangkan pikiran manusia.
“Ketika lingkungan itu kondusif dan nggak bising, masih bisa bikin kita tenang dan berpikir jernih,” tutup Septian. Prihatsari