Kepala Sekolah SD Negeri Gayam 05 Sukoharjo
PENDIDIKAN di era Revolusi Industri 4.0 memiliki keterkaitan erat dengan kemajuan teknologi informasi. Penggunaan teknologi yang semakin canggih dalam pembelajaran memberikan kemudahan bagi peserta didik dengan menjadi alternatif media belajar (Uspayanti & Pandiangan, 2023, p. 395). Peran pendidik tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menjadi fasilitator yang mendorong peserta didik untuk terus menggali dan menambah informasi. Oleh karena itu, pemanfaatan perangkat komputer dalam pembelajaran menjadi langkah awal yang penting, mengingat media berperan besar dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran (Rachman, 2018, p. 181).
Perkembangan teknologi digital yang pesat mendorong pengguna untuk menguasai berbagai produk digital, termasuk dalam dunia pendidikan. Teknologi yang semakin canggih harus dimanfaatkan oleh pendidik agar pembelajaran lebih interaktif dan menarik (Universitas Samudra et al., 2022, p. 2). Dengan perangkat lunak yang mendukung berbagai format media seperti teks, gambar, video, dan audio, proses pembelajaran menjadi lebih variatif dan efektif (Rasiman & Pramasdyahsari, 2014, pp. 535–544).
Salah satu platform desain grafis yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran digital adalah Canva. Platform berbasis web ini memungkinkan pendidik membuat dan mengkreasikan berbagai media pembelajaran secara menarik dan interaktif. Canva dapat diakses melalui website (https://www.canva.com/) atau aplikasi di Play Store (Ambarwati et al., 2022, p. 3). Selain itu, Canva juga dapat mengubah tampilan file PDF menjadi lebih menarik, menyerupai buku digital dengan elemen multimedia seperti video, gambar, dan audio. Dengan konten digital ini, penulis tidak perlu lagi menerbitkan buku secara konvensional, melainkan dapat menerbitkannya secara mandiri melalui penerbit digital (Lubis et al., 2023, p. 5). Dalam pembelajaran, Canva juga dapat digunakan untuk menciptakan buku cerita digital yang interaktif dan menarik (Abimanik et al., 2022).
Buku cerita digital tidak hanya menyajikan teks naratif, tetapi juga dapat menjadi alat pembelajaran interaktif. Integrasi elemen seperti audio narasi, animasi, dan elemen visual yang tepat dapat meningkatkan daya tarik buku cerita sekaligus membantu anak-anak Sekolah Dasar dalam memahami konsep dengan lebih baik. Dengan menggunakan Canva, guru dapat mengekspresikan kreativitasnya dalam merancang konten pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan siswa (Eliastuti et al., 2023). Berbagai pilihan template, gambar, dan elemen teks yang tersedia memungkinkan guru untuk membuat buku cerita yang selaras dengan karakteristik serta kebutuhan kelas di Sekolah Dasar.
Dalam pembuatan buku cerita digital, penting untuk memastikan bahwa konsep dan kontennya selaras dengan kurikulum yang diterapkan di Sekolah Dasar. Setiap elemen dalam buku harus mendukung tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, sehingga dapat memberikan manfaat edukatif yang optimal (Yunita & Watini, 2022).
Literasi digital sendiri didefinisikan sebagai kemampuan individu dalam menggunakan informasi dan pengetahuan yang tersedia di lingkungan digital (Gilster & Watson, 1997). Individu yang memiliki literasi digital mampu mencari, mengevaluasi, serta menggunakan informasi dari berbagai sumber digital secara kritis. Selain itu, konsep participatory culture yang dikemukakan oleh Jenkins (2007) menekankan bahwa literasi digital juga mencakup kemampuan berkolaborasi, berbagi, dan berpartisipasi aktif dalam budaya digital.
Namun, berdasarkan hasil observasi, masih banyak guru di Kecamatan Sukoharjo yang belum sepenuhnya memahami pemanfaatan media berbasis teknologi dalam pembelajaran, khususnya bagi anak-anak Sekolah Dasar. Literasi digital di kalangan pendidik masih perlu ditingkatkan, mengingat sebagian besar guru masih mengandalkan media pembelajaran dalam bentuk fisik dan belum sepenuhnya mengenal atau memanfaatkan teknologi digital secara efektif dalam proses belajar-mengajar.
Buku cerita digital berbasis aplikasi Canva merupakan salah satu media pembelajaran yang berperan penting dalam proses belajar-mengajar. Dalam menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan, pendidik perlu lebih cermat dalam memahami perbedaan kemampuan membaca setiap peserta didik. Oleh karena itu, diperlukan lingkungan belajar yang menarik dan interaktif untuk mendukung perkembangan literasi mereka. Salah satu pendekatan yang efektif adalah melalui buku cerita bergambar yang mengajak peserta didik bermain sambil belajar di lingkungan mereka sendiri (Rosvita, 2021).
Media buku cerita bergambar dapat dimanfaatkan oleh pendidik untuk meningkatkan minat dan keterampilan membaca peserta didik. Berbeda dengan buku paket tematik, buku cerita bergambar digital tidak hanya menyajikan teks dan ilustrasi, tetapi juga menampilkan warna-warni yang sesuai dengan karakter dalam cerita, sehingga lebih menarik bagi anak-anak. Selain itu, buku ini dapat diakses melalui perangkat seperti ponsel atau laptop, menjadikannya lebih fleksibel dan mudah digunakan dalam berbagai situasi belajar. Dengan pendekatan yang lebih visual dan interaktif, media ini terbukti mampu meningkatkan keterampilan membaca peserta didik.
Keterampilan membaca sendiri merupakan investasi terbaik bagi masa depan peserta didik. Kemampuan ini tidak hanya membantu mereka dalam memahami materi pembelajaran, tetapi juga menumbuhkan kebiasaan membaca secara mandiri. Peserta didik yang memiliki keterampilan membaca yang baik cenderung memiliki kesadaran untuk mencari dan membaca bahan bacaan dengan inisiatif sendiri. Sebaliknya, mereka yang keterampilan membacanya masih rendah sering kali kurang tertarik untuk membaca, meskipun akses terhadap bahan bacaan sangat mudah. Oleh karena itu, penggunaan media yang tepat dalam pembelajaran dapat berperan besar dalam membangun kebiasaan membaca sejak dini.
Pelatihan Guru
Pemanfaatan buku cerita digital berbasis aplikasi Canva dalam pembelajaran hanya dapat berjalan efektif jika guru terlebih dulu memiliki pemahaman dan keterampilan dalam menggunakannya. Sebagai pendidik, guru berperan utama dalam merancang, menyusun, dan mengintegrasikan media pembelajaran digital yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan khusus bagi guru agar mereka mampu mengoptimalkan Canva sebagai alat bantu pembelajaran, sehingga literasi digital di lingkungan sekolah dapat berkembang secara menyeluruh dan memberikan dampak positif bagi proses belajar-mengajar.
Dalam pelatihan ini, guru dibimbing untuk mengembangkan media pembelajaran menggunakan aplikasi Canva. Tujuan utama dari pelatihan ini adalah membantu peserta didik memahami materi dengan lebih baik, sekaligus melatih keterampilan membaca serta meningkatkan minat baca mereka. Media pembelajaran yang dikembangkan juga dirancang sebagai solusi terhadap rendahnya minat baca peserta didik terhadap buku cetak. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan para guru dapat menghasilkan buku cerita digital yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja.
Aplikasi Canva terus berinovasi untuk mendukung proses pembelajaran, baik dalam metode tatap muka (offline) maupun secara daring (online). Oleh karena itu, pemanfaatan buku cerita digital berbasis Canva tidak hanya meningkatkan kompetensi literasi digital guru, tetapi juga mendorong motivasi belajar peserta didik (Adinda Pertiwi, 2021: 5).
Salah satu media pembelajaran yang masih belum banyak digunakan dalam dunia pendidikan adalah buku cerita digital berbasis aplikasi Canva. Media ini memiliki keunggulan karena sifatnya yang sederhana, jelas, dan mudah dipahami. Dengan tampilan yang menarik serta aksesibilitas yang fleksibel, buku cerita digital dapat menjadi media pembelajaran yang informatif dan edukatif bagi peserta didik.
Penggunaan buku cerita digital juga merupakan salah satu bentuk penerapan teknologi dalam pendidikan, khususnya dalam menyajikan materi pembelajaran secara lebih interaktif. Keunggulan media ini adalah kemudahannya dalam mengakomodasi berbagai kebutuhan pembelajaran di sekolah. Dengan penyajian yang menarik dan sistematis, buku cerita digital membantu peserta didik meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi, mengasah keterampilan membaca, serta memperkuat daya ingat terhadap isi pelajaran.
Berdasarkan observasi yang dilakukan di SD Negeri Gayam 05, penggunaan media pembelajaran berbasis aplikasi Canva masih tergolong jarang. Proses belajar mengajar masih didominasi oleh penggunaan buku sebagai sumber utama tanpa didukung oleh media pembelajaran lain. Akibatnya, pembelajaran cenderung kurang bervariasi, terutama bagi kelas rendah, yang dapat berdampak pada rendahnya motivasi peserta didik dalam memahami materi serta minimnya minat baca mereka.
Menyadari permasalahan tersebut, kepala sekolah berinisiatif untuk mengadakan pelatihan bagi tenaga pendidik di SD Negeri Gayam 05 Sukoharjo. Pelatihan ini mengusung tema “Upaya Peningkatan Kompetensi Literasi Guru melalui Pelatihan Sagu Sakurita (Satu Guru Satu Buku Cerita Digital) berbasis Canva”, dengan harapan dapat membantu guru dalam mengembangkan media pembelajaran yang lebih menarik dan efektif bagi peserta didik.
Pelatihan ini menggunakan metode yang menggabungkan pendekatan pedagogi dengan praktik langsung. Tahap pertama dimulai dengan pemberian teori mengenai konsep dasar dan langkah-langkah dalam pembuatan buku cerita digital. Setelah memahami teori, peserta kemudian mempraktikkannya secara mandiri, dimulai dengan mengunggah dokumen yang telah disiapkan ke akun Canva, lalu melengkapi dan memperkaya buku cerita dengan ilustrasi digital yang menarik.
Pelatihan ini diikuti oleh sembilan tenaga pendidik dari SD Negeri Gayam 05 yang menunjukkan antusiasme tinggi dari awal hingga akhir kegiatan. Diharapkan, setelah mengikuti pelatihan ini, para peserta mampu menggunakan Canva sebagai alat bantu dalam menyusun buku cerita digital yang tidak hanya menarik, tetapi juga mendukung proses pembelajaran.
Lebih dari sekadar mengenalkan Canva sebagai platform desain, tujuan utama dari pelatihan ini adalah membantu guru dalam menciptakan media pembelajaran yang inovatif. Dengan adanya buku cerita digital, diharapkan minat baca peserta didik meningkat serta pembelajaran menjadi lebih interaktif dan menyenangkan. Selain itu, hasil karya para guru ini dapat terus dikembangkan dan berpotensi untuk dipublikasikan sebagai sumber belajar yang lebih luas.
Pelatihan pembuatan Sagu Sakurita berbasis Canva ini dimulai dengan tahap persiapan yang matang. Sebelum pelatihan berlangsung, dilakukan analisis kebutuhan guna memahami sejauh mana pemahaman dan keterampilan guru dalam menggunakan alat desain grafis serta pembelajaran digital. Survei awal dan wawancara dengan sejumlah dosen dilakukan agar materi pelatihan dapat disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan peserta. Dari hasil analisis tersebut, disusunlah materi yang mencakup dasar-dasar penggunaan Canva dan Heyzine, dua platform yang akan menjadi alat utama dalam pembuatan buku cerita digital.
Pada hari pelaksanaan, sesi pertama dibuka dengan pengenalan alat yang akan digunakan. Para peserta diperkenalkan pada pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam penyusunan materi ajar, terutama di era modern yang semakin berkembang pesat. Narasumber menjelaskan bagaimana Canva dan Heyzine dapat membantu guru dalam menciptakan buku cerita digital yang lebih menarik dan interaktif. Tidak hanya itu, peserta juga diajak untuk memahami peran buku cerita digital dalam meningkatkan minat baca serta keterampilan literasi peserta didik.
Kepala sekolah turut hadir dalam sesi ini, memberikan paparan mengenai urgensi inovasi dalam dunia pendidikan serta mendemonstrasikan secara langsung bagaimana kedua platform tersebut dapat digunakan secara efektif. Diskusi pun berlangsung dengan penuh antusiasme, para peserta aktif bertanya dan berbagi pemikiran terkait pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.
Setelah mendapatkan pemahaman dasar, peserta kemudian mulai berlatih menyusun buku cerita digital mereka sendiri. Pelatihan praktis ini dibagi menjadi dua tahap. Pada tahap pertama, mereka belajar mengolah desain menggunakan Canva. Dengan bimbingan narasumber, mereka mulai memilih template yang sesuai dengan tema cerita, menambahkan elemen visual seperti gambar, teks, serta ikon yang menarik. Beberapa peserta tampak masih sedikit ragu dalam mengatur tata letak desainnya, tetapi dengan latihan dan arahan yang diberikan, mereka mulai terbiasa dan semakin percaya diri dalam menggunakan fitur-fitur yang ada.
Setelah desain selesai dibuat, peserta beralih ke tahap berikutnya, yakni mengonversi hasil desain mereka menjadi buku cerita digital interaktif menggunakan Heyzine. Mereka diajarkan bagaimana menambahkan hyperlink, video, dan audio ke dalam cerita mereka agar lebih hidup dan menarik bagi peserta didik. Tahap ini menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian peserta yang sebelumnya belum pernah menggunakan Heyzine, tetapi dengan pendampingan yang intensif, mereka akhirnya mampu memahami cara kerja platform tersebut dan mulai bereksperimen dengan berbagai fitur interaktif yang tersedia.
Sesi pendampingan menjadi bagian yang paling dinanti. Setelah seluruh peserta menyelesaikan buku cerita digital mereka, mereka diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil karyanya dan mendapatkan umpan balik dari narasumber. Dalam suasana yang santai tetapi tetap serius, setiap peserta mendiskusikan desain serta konten yang telah mereka buat. Narasumber memberikan saran dan masukan terkait aspek visual, struktur cerita, serta kelengkapan materi yang ada dalam buku cerita mereka. Momen ini menjadi ajang pembelajaran yang sangat berharga, di mana peserta tidak hanya belajar dari pengalaman sendiri, tetapi juga dari karya dan masukan yang diberikan kepada peserta lainnya.
Menjelang akhir sesi, peserta diminta untuk melakukan refleksi dan evaluasi terhadap pelatihan yang telah mereka ikuti. Mereka mengisi angket evaluasi untuk mengukur sejauh mana pemahaman mereka terhadap materi yang telah diberikan serta kepuasan mereka terhadap jalannya pelatihan. Selain itu, mereka juga diminta untuk mengungkapkan pengalaman pribadi mereka dalam mengaplikasikan Canva dan Heyzine dalam proses pengajaran di sekolah. Beberapa peserta menyatakan bahwa sebelumnya mereka merasa ragu apakah mereka bisa membuat buku cerita digital sendiri, tetapi setelah mengikuti pelatihan ini, mereka merasa lebih percaya diri dan bersemangat untuk terus mengembangkan keterampilan mereka.
Pelatihan ini bukan hanya sekadar memberikan pengetahuan baru, tetapi juga membuka wawasan peserta tentang bagaimana teknologi digital dapat dimanfaatkan secara kreatif dalam dunia pendidikan. Dengan keterampilan yang telah mereka kuasai, diharapkan para guru dapat terus menciptakan buku cerita digital yang inovatif dan inspiratif bagi peserta didik, sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif.
Pelatihan ini memberikan dampak yang signifikan bagi para guru di SD Negeri Gayam 05, terutama dalam hal pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Salah satu hasil yang paling terlihat adalah perubahan sikap guru terhadap penggunaan alat digital. Jika sebelumnya sebagian besar dari mereka hanya mengandalkan buku teks sebagai media utama dalam mengajar, kini mereka mulai terbuka terhadap pemanfaatan teknologi dalam menyusun materi ajar. Pengenalan dan praktik langsung dalam pembuatan buku cerita digital berbasis Canva dan Heyzine telah meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran.
Tidak hanya itu, kualitas pembelajaran pun mengalami peningkatan. Buku cerita digital yang telah dibuat oleh guru mulai digunakan di dalam kelas, memberikan warna baru dalam proses belajar mengajar. Peserta didik merespons dengan antusias, menunjukkan ketertarikan yang lebih besar terhadap materi yang disampaikan melalui buku digital dibandingkan dengan metode pembelajaran konvensional. Hal ini tercermin dari berbagai umpan balik positif yang diberikan siswa, di mana mereka merasa lebih tertarik dan terlibat dalam pembelajaran yang interaktif. Guru juga mengamati adanya peningkatan dalam interaksi dan partisipasi siswa saat materi diajarkan dengan menggunakan media yang lebih visual dan menarik.
Dampak jangka panjang dari pelatihan ini pun sangat menjanjikan. Jika para guru secara konsisten menerapkan keterampilan yang telah mereka peroleh dalam menyusun materi ajar, maka inovasi ini dapat menjadi bagian dari budaya pembelajaran di SD Negeri Gayam 05. Penggunaan Canva dan Heyzine dalam pembuatan modul pembelajaran tidak hanya akan memperkaya metode pengajaran, tetapi juga akan mendorong pemanfaatan teknologi secara lebih luas dalam dunia pendidikan. Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kompetensi individu para guru, tetapi juga turut berkontribusi dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih dinamis, kreatif, dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Peserta Antusias
Pelaksanaan pelatihan penyusunan Sagu Sajurita di SD Negeri Gayam 05 Sukoharjo berlangsung dengan lancar dan mendapat sambutan antusias dari para peserta. Selama kegiatan ini, para guru dilatih untuk menyusun buku cerita digital dengan memanfaatkan aplikasi Canva dan Heyzine sebagai media pembelajaran interaktif. Proses pelatihan diawali dengan pengenalan dasar-dasar penggunaan kedua aplikasi, mulai dari pembuatan desain baru, pengelolaan tab dan file, hingga langkah-langkah teknis dalam menyusun materi ajar yang menarik dan mudah dipahami.
Hasil dari pelatihan ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam keterampilan peserta dalam memanfaatkan teknologi digital dalam pembelajaran. Para guru secara aktif berpartisipasi dalam memahami konsep serta menerapkan penggunaan Canva dan Heyzine untuk mengembangkan media belajar yang lebih variatif. Umpan balik dari peserta pun sangat positif, menandakan bahwa pelatihan ini memberikan manfaat yang nyata dalam meningkatkan kompetensi mereka. Dengan memanfaatkan fitur drag-and-drop dan template siap pakai di Canva, para peserta mampu menyusun buku cerita digital yang lebih menarik, sesuai dengan kebutuhan pembelajaran masing-masing. Sementara itu, penggunaan Heyzine memungkinkan mereka untuk mengintegrasikan elemen multimedia, seperti tautan interaktif dan kuis, sehingga buku cerita digital yang dihasilkan menjadi lebih dinamis dan engaging bagi siswa.
Lebih jauh, pelatihan ini juga berhasil meningkatkan literasi digital para guru. Kepercayaan diri mereka dalam merancang serta menerapkan teknologi dalam pembelajaran semakin meningkat. Selain itu, suasana pelatihan yang kolaboratif mendorong para peserta untuk saling berbagi pengalaman dan praktik terbaik, sehingga wawasan mereka tentang metode pengajaran berbasis digital semakin berkembang. Dengan integrasi teknologi ini, kesenjangan antara pengajaran tradisional dan pendekatan digital modern dapat diperkecil, menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan menyenangkan bagi siswa.
Sebagai hasil akhir dari pelatihan ini, setiap peserta berhasil menyusun satu buku cerita digital yang siap digunakan sebagai bahan ajar di kelas masing-masing. Buku-buku ini kemudian diunggah ke Heyzine dan dibagikan kepada peserta didik melalui tautan digital yang diperoleh. Evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan ini tidak hanya berjalan dengan baik, tetapi juga memberikan dampak yang positif terhadap inovasi pembelajaran di sekolah. Keberhasilan ini menjadi landasan bagi tindak lanjut program pelatihan berikutnya, di mana direncanakan untuk menyelenggarakan pelatihan pembuatan Buku Cerita Digital Interaktif serta Media Pembelajaran Interaktif (MPI) yang lebih mendalam dan aplikatif.
Pelatihan penyusunan Sagu Sakurita dengan memanfaatkan Canva dan Heyzine terbukti memberikan dampak positif dalam meningkatkan keterampilan desain digital para peserta. Melalui aplikasi ini, para pendidik dapat menciptakan materi pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, dan mudah diakses oleh siswa. Selain itu, pelatihan ini juga membuka wawasan baru tentang pentingnya integrasi teknologi dalam proses pengajaran, sehingga pembelajaran menjadi lebih dinamis dan efektif.
Sepanjang pelatihan, peserta menunjukkan keterlibatan aktif dalam setiap sesi, mulai dari mendengarkan pemaparan materi, mengajukan pertanyaan, hingga langsung mempraktikkan pembuatan buku cerita digital. Antusiasme ini mencerminkan peningkatan pemahaman serta kemampuan mereka dalam memanfaatkan Canva dan Heyzine untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis digital.
Keberhasilan pelatihan ini menjadi dorongan untuk terus mengadakan kegiatan serupa secara berkala, agar para pendidik selalu terupdate dengan perkembangan teknologi terbaru dalam dunia pendidikan. Sebagai langkah lanjutan, pelatihan berikutnya diharapkan dapat mencakup sesi yang lebih mendalam, seperti pembuatan buku cerita digital interaktif yang dilengkapi animasi, video, serta pengembangan Media Pembelajaran Interaktif (MPI) guna memperkaya pengalaman belajar siswa. [*]
Mila Kartika Sari
Kepala Sekolah SD Negeri Gayam 05 Sukoharjo