WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Di tengah euforia menyambut bulan suci Ramadan satu hal yang tak boleh diabaikan adalah kesiapan tubuh menjalani ibadah puasa, terutama bagi masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu. Salah satu yang paling banyak menjadi perhatian adalah puasa bagi penderita diabetes, penyakit metabolik kronis yang membutuhkan pengelolaan ketat dalam keseharian.
Menjawab keresahan itu, Radio Giri Swara Wonogiri menghadirkan dokter spesialis penyakit dalam RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso, dr. Endra Dwi Cahyana, dalam program “Bincang Sehat bersama RSUD dr. Soediran”, Kamis (6/2/2026). Dalam dialog tersebut, dr. Endra mengulas tuntas bagaimana penderita diabetes tetap bisa menjalankan puasa dengan aman tanpa mengorbankan kondisi kesehatan.
Dokter Endra menjelaskan, diabetes atau yang sering disebut penyakit gula atau kencing manis merupakan gangguan metabolik kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah. Kondisi ini bisa terjadi karena pankreas tidak lagi mampu memproduksi insulin secara optimal, atau insulin yang ada tidak bekerja secara efektif dalam mengontrol kadar gula darah. Akibatnya, kadar gula dalam darah menjadi sulit dikendalikan.
Beberapa ciri yang umum dialami penderita diabetes antara lain ✓ sering buang air kecil (poliuria) ✓ sering merasa haus (polidipsia) ✓ mudah lapar (polifagia) ✓ serta penurunan berat badan tanpa sebab jelas. Berdasarkan jenisnya, diabetes terbagi menjadi diabetes tipe 1 yang membutuhkan terapi insulin seumur hidup, serta diabetes tipe 2 yang masih memungkinkan penanganan dengan obat-obatan untuk merangsang kerja pankreas.
“Pada diabetes tipe 2, selama insulin masih ada, kita bisa menggunakan obat-obatan. Namun bila dosis obat sudah maksimal dan gula darah tetap tinggi, maka penggunaan insulin menjadi pilihan berikutnya,” jelas dr. Endra.
Meski demikian, dr. Endra menegaskan bahwa penderita diabetes tidak otomatis dilarang menjalankan puasa. Dengan perencanaan yang tepat dan disiplin, puasa tetap bisa dijalani. Kuncinya adalah memahami kondisi tubuh dan mengikuti panduan medis secara konsisten.
Beberapa langkah penting yang disampaikan dr. Endra antara lain ✓ wajib sahur dan diupayakan mendekati waktu imsak ✓ menghindari aktivitas fisik berat pada pagi hingga siang hari ✓ mencukupi kebutuhan cairan saat sahur dan berbuka ✓ memilih olahraga ringan di sore hari menjelang berbuka ✓ serta memprioritaskan aktivitas ringan selama berpuasa agar kadar gula darah tetap stabil.
Ia juga mengingatkan agar penderita diabetes tidak memaksakan diri. Jika muncul keluhan seperti lemas berlebihan, pusing, gemetar, atau tanda hipoglikemia, puasa sebaiknya segera dibatalkan dan kondisi dicek.
“Niat dan tekad memang penting, tapi keselamatan tetap utama. Kalau ada keluhan, jangan memaksakan diri. Lebih baik berhenti puasa dan periksa, supaya cukup ditangani di rumah dan tidak berujung ke rumah sakit,” tegasnya.
Menjelang Ramadan, edukasi seperti ini menjadi penting agar ibadah puasa tidak justru memicu masalah kesehatan. Dengan pemahaman yang tepat, penderita diabetes tetap bisa menjalani Ramadan dengan lebih tenang, aman, dan terkontrol.
Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

23 hours ago
4


















































